Royal Flush

Posts displayed of the category: Part 2

Episode 4# " Rumah Seni " : Part 2
30 Oct 2007 


EXT.
TAMAN DEKAT KAMPUS, KURSI PANJANG – SORE



Terlihat empat sekawan datang dengan
terengah-engah. Setelah sampai, mereka pun segera duduk di bangku panjang.



 



DAN
DAN



( Ketawa )



Mie Mie, kayaknya saudara kembarmu sama si



orang aneh cocok, deh !



 



NU
NU



Iya, sama-sama sombong dan galak !



 



MIE
MIE



( Terlihat gelisah )



Bagaimana ini ? Aku harus segera pulang.



 



QUEEN



Jangan ! Mumpung saudara kembarmu sedang



ribut sama si pengeran itu, kita diskusiin
tugas kita aja.



 



NU
NU



Oh, iya. Gimana nih tugasnya ? 7 hari kan
udah harus



kumpul, kalo enggak nilai ujian kita akan
dapat



D dan kita dinyatakan nggak lulus. Masa aku
harus



ulang ? Nggak mau !



 



DAN
DAN



Aku juga nggak mau.



 



MIE
MIE



( Membenarkan kacamatanya, seperti



sedang berpikir )



Kemarin waktu pulang kuliah, aku lewat di
suatu



tempat. Di sana dipajang banyak sekali
lukisan. Dan



meskipun aku nggak ngerti lukisan, aku
merasa



lukisan-lukisan itu bagus banget. Kalo nggak
salah



namanya Rumah Seni, deh !



 



QUEEN



Oh, itu ya ? Aku juga pernah liat.



 



NU
NU



Terus ?



 



MIE
MIE



Aku lagi pikir, gimana kalo kita belajar
sama orang



yang buat lukisan itu ?



 



DAN
DAN



Eh, itu ide bagus  ! Tempat itu nggak jauh dari



sini khan ? Ayo, sekarang juga kita ke sana
!



 



CUT
TO :



 



EXT.
RUMAH SENI, DEPAN PINTU RUMAH SENI – SORE



Terlihat Empat sekawan sedang berdiri di
depan sebuah bangunan dengan design kuno. Mirip bangunan-bangunan di Eropa.
Pintunya terbuat dari kaca tebal dan di sebelah-sebelah pintu terdapat
jendela-jendela kaca yang besar-besar.



 



Dari luar jendela terlihat di dalam banyak
sekali lukisan. Di atas pintu kaca tersebut terdapat papan nama besar
bertulisan “ RUMAH SENI “. Empat sekawan pun masuk ke dalam rumah.



 



INT.
RUMAH SENI, LOBBY – SORE



Terlihat empat sekawan melihat-lihat ke
sekeliling. Di sana terdapat banyak sekali lukisan-lukisan.



 



CONDOR
(O.S. )



Siapa kalian ? Mau apa ke sini ?



 



Empat sekawan menoleh ke asal suara.



 



DAN
DAN



( Berbisik kepada ketiga temannya )



Bukannya itu Condor ? Kok dia ada di sini ?



 



Close
up
wajah Queen, Nu Nu dan
Mie Mie secara bergantian. Queen memasang tampang bingung, Nu Nu geleng-geleng,
Mie Mie mengangkat bahu tanda tak tahu.



 



Condor berjalan mendekati empat sekawan,
kemudian memperhatikan Queen dengan seksama.



 



CONDOR



( Kepada Queen )



Ooo… kamu mau menjahati adikku, ya ?



 



QUEEN



( Antara heran dan terkejut )



Aku ? Kenapa aku mau menjahati adikmu ?
Memang



kita kenal ?



 



DAN
DAN



Iya, jangan bicara sembarangan. Kita kan
nggak kenal



Kenapa kamu menuduh orang seperti itu ?



 



NU
NU



Nggak sopan !



 



Condor
malah mendekati Queen dan memicingkan matanya.



 



CONDOR



Masih nggak mau ngaku. Kamu Queen kan ?



 



QUEEN



( Bingung )



Kok kamu tahu namaku ?



 



CONDOR



Jelas aku tahu. Kamu kan yang mau menjahati
adikku.



 



Di tengah-tengah kebingungan empat sekawan,
sebuah suara tak dikenal memecahkan keheningan.



 



PAPI
( O.S. )



Condor, ada siapa di luar ?



 



Hanya suaranya yang terdengar, namun
sosoknya tidak kelihatan. Empat sekawan mencari ke sekeliling asal suara dan
menghentikan kegiatan mereka ketiga Condor mulai bicara.



 



CONDOR



( Berteriak ke arah ruang dalam )



Bukan apa-apa guru ! Cuma orang iseng !



 



DAN
DAN



( Ikut berteriak ke arah yang dituju Condor
)



Bohong guru ! Kami ke sini mau belajar
melukis. Tapi



orang ini malah bersikap tidak sopan !



 



NU
NU



( Ikut-ikutan berteriak )



Iya, kami kan tamu, harusnya dijamu dengan
baik !



 



Namun, tak ada jawaban dari sang Guru. Empat
sekawan masih menatap ke ruang dalam, hendak melihat siapakah guru yang
dimaksud. Condor masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya menjulurkan lidah
kepada empat sekawan.



 



Terdengar desas desis suara yang tidak
jelas. Empat sekawan mencoba mendengarkan, tapi tetap tak bisa menerka apa yang
baru saja mereka dengar, karena suaranya terlalu kecil.



 



Tak lama kemudian, keluar seorang lelaki
setengah baya. Tubuhnya masih gagah, dengan jenggot dan kumis tipisnya, lelaki
itu masih kelihatan muda dan bersemangat. Di samping laki-laki itu, Condor
berdiri tegap sambil bertolak pinggang.



 



PAPI



( Tersenyum )



Rupanya Rumah Seni kami kedatangan tamu.
Maafkan



murid saya bila bersikap tidak sopan.



 



NU
NU



( Acuh tak acuh )



Untung gurunya nggak kayak muridnya …



 



DAN
DAN



( Menjitak kepala Nu Nu )



Sopan dikit sama orang yang lebih tua.



 



MIE
MIE



( Meletakkan jari telunjuknya di depan
bibirnya )



Ssstttss …



 



QUEEN



( Tersenyum )



Guru, maaf kalau kami mengganggu. Kami
mahasiswa



jurusan seni lukis. Kami dapat tugas dari
dosen kami



untuk menyelesaikan lukisan karya kami dalam
waktu 7



hari. Kami lihat hasil karya guru sangat
bagus, jadi kami



ingin belajar melukis dari guru.



 



PAPI



( Tersenyum )



Boleh … besok datang saja dengan membawa



perlengkapan melukis.



 



CONDOR



Tapi … guru …



 



PAPI



( Memotong kata-kata Condor )



Condor, tolong antarkan tamu keluar.



 



EMPAT
SEKAWAN



( Tersenyum sambil memberi hormat )



Terima kasih guru.



 



Dengan wajah kecewa bercampur kesal, Condor
menggiring empat sekawan keluar. Queen memperhatikan wajah Condor yang kesal.



 



QUEEN



Kamu benci padaku, ya ?



 



CONDOR



( Judes )



Aku benci semua orang yang berniat menjahati
adikku.



 



QUEEN



( Bingung )



Tapi aku kan nggak kenal kamu maupun adikmu,
bagaimana



mungkin aku menjahatinya ? Dan juga … untuk
apa ?



 



CONDOR



( Cuek )



Kalau maling mau ngaku, penjara udah penuh !



 



QUEEN



( Mulai kesal )



Terserah, deh !



 



Sesampainya di depan pintu, tanpa
mengucapkan kata-kata perpisahan, Condor langsung masuk ke dalam dan
meninggalkan empat sekawan di luar.



 



DAN
DAN



Sombong sekali.



 



NU
NU



Iya, belagu.



 



Di saat empat sekawan masih memaki-maki
Condor, sebuah suara menggelegar menghentikan makian mereka.



 



RICE
( O.S. )



Mie Mie, akhirnya ketemu juga ! Ngapain aja
kamu ?



Ayo cepat pulang !



 



Empat sekawan segera menoleh. Rice sudah
berada beberapa meter di depan mereka dengan mobil jemputan keluarganya dan
Mouse serta Shadow di belakangnya.



 



DAN
DAN



( Berbisik kepada Mie Mie )



Wah, saudara kembarmu kok kayak mamamu saja
?



 



NU
NU



( Ikut-ikutan berbisik )



Iya, sok ngatur.



 



MIE
MIE



( Kepada teman-temannya )



Aku pulang dulu, ya.



 



DAN
DAN, QUEEN dan NUNU



( Senyum )



Iya, hati-hati, ya.



 



Mie Mie pun berjalan menuju mobilnya. Di
dalam mobil, Rice sudah duduk dengan wajah kesal. Sedangkan Mouse dan Shadow
masih mengiringi Mie Mie di sampingnya.



 



Setelah Mie Mie masuk ke dalam mobil, ia
sempat melambaikan tangan kepada ketiga temannya dan mereka pun membalasnya.



 



Kemudian, tepat pada saat mobil Mie Mie
melaju pergi, ponsel Queen berdering kencang. Queen buru-buru merogoh tasnya
dan mengeluarkan ponselnya, kemudian memperhatikan layar ponsel.



 



QUEEN



( Antara takut dan terkejut )



JACK !



 



Kedua temannya yang menyadari itu telepon
dari Jack segera menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua terlunjuk
mereka. Sesaat kemudian, barulah Queen menekan tombol call dengan wajah pasrah.



 


CUT TO :
Shan2 · 103 views · 1 comment
Categories: Episode 4#, Part 2

Last Comment

Calendar

September 2010
SunMonTueWedThuFriSat
 << < > >>
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Google Adsense

Announce

Who's Online?

Member: 0
Visitor: 1

rss Syndication

Archives