Royal Flush

Posts displayed of the category: Episode 4#

Episode 4# " Rumah Seni " : Part 1
30 Oct 2007 


INT.
KAMPUS QUEEN, SEKITAR KANTIN - SIANG



Terlihat QUEEN, DAN DAN, NU NU dan MIE MIE
sedang berjalan-jalan santai di sekitar kantin. Kemudian empat sekawan itu
menghela napas panjang-panjang bersamaan.



 



EMPAT
SEKAWAN



( Menghela napas )



Hai …



 



Muncul tulisan dari samping “ 4# RUMAH SENI “.



 



NU
NU



( Sambil menggaruk-garuk kepala )



Aku nggak ngerti … bener-bener nggak ngerti.



 



DAN
DAN



( Melipat tangan dan menatap ke depan )



Aku juga nggak ngerti.



 



QUEEN



( Menatap kedua temannya dengan bingung )



Nggak ngerti apa ? Bukannya tugas dari Bu
dosen



Itu udah jelas ?



 



NU
NU



( Kepada Queen )



Tugasnya sih emang udah jelas, tapi aku
masih



nggak ngerti. Kenapa sih pak dosen yang lucu
itu



harus diganti sama nenek sihir yang nggak
ada



kerjaan itu ?



 



Queen memperhatikan Nu Nu sambil tersenyum.
Mie Mie hanya memperhatikan ketiga temannya secara bergantian sambil
membenarkan kacamatanya.



 



DAN
DAN



( Manggut-manggut )



Iya, mana nenek sihir itu pake kasih tugas
yang



susah segala lagi.



 



MIE
MIE



( Membenarkan kacamatanya )



Selama ini nggak ada pelajaran yang bisa
bikin aku



susah, tapi sekarang … aku bener-bener nggak
bisa



ngerjain tugas ini … gimana nih ?



 



QUEEN



Lho, lho, lho ? Apa sih yang bikin kalian
susah ?



Dia kan cuma kasih tugas supaya kita
nyerahin



lukisan hasil karya kita dalam waktu 7 hari,
kemudian



kita harus mempresentasikan lukisan kita
itu.



Kita kan memang kuliah di jurusan seni
lukis, jadi



tugas itu nggak aneh.



 



DAN
DAN, NU NU dan MIE MIE



( Hampir berbarengan, menghela napas )



Hai …



 



QUEEN



( Bingung )



Kenapa ?



 



DAN
DAN



Kamu kan memang bakat lukis, makanya kamu



tenang-tenang aja.



 



QUEEN



Tapi aku nggak pernah selesaikan lukisan
hanya



dalam waktu 7 hari.



 



NU
NU



Kalo udah ada bakat mah lebih gampang, yang



penting kamu udah ada dasarnya dan udah
pernah



ngelukis. Sedangkan aku ? Aku sama sekali
nggak



pernah ngelukis.



 



DAN
DAN



Aku juga.



 



MIE
MIE



( Mengacungkan tangan kanannya )



Aku juga.



 



QUEEN



Lho, jadi kenapa kalian masuk jurusan ini ?



 



NU
NU



( Menundukkan kepala )



Abis aku nggak tau mau masuk jurusan apa.



Karena kita udah temenan sejak SMU, jadi



aku ikut kamu masuk universitas ini dan
jurusan ini.



 



QUEEN



( Terkejut )



Hah ? ( Kepada Dan Dan ) Kalau kamu ?



 



DAN
DAN



( Menunduk pelan )



Aku juga sama kayak Nu Nu. Jadi, aku ikutin



kamu aja.



 



Queen menoleh ke arah Mie Mie tanpa berkata
apa-apa, masih dengan tampang tak percaya.



 



MIE
MIE



( Membenarkan kacamatanya )



Kalau aku sih beda … aku … aku belum pernah



ketemu teman sebaik Queen, jadi aku
memutuskan



nggak mau kehilangan Queen. Makanya aku ikut



Queen masuk universitas dan jurusan ini.



 



DAN
DAN, NU NU



( Berbarengan )



Yee … itu mah sama aja.



 



QUEEN



Terus … sekarang kita harus gimana ?



 



Close
up
Queen, Dan Dan, Nu Nu
dan Mie Mie secara bergantian. Queen terlihat sedang berpikir keras, Dan Dan
memegangi dagunya sambil menatap ke atas, Nu



Nu memegangi kepalanya dengan kedua
tangannya sambil geleng-geleng. Dan Mie Mie hanya diam saja sambil membenarkan
kacamatanya.



 



RIGHT
( O.S. )



TUAN MUDA TEN TIBA !!!



 



Empat sekawan segera menoleh ke arah asal
suara. Terlihat Ten datang menghampiri empat sekawan sambil diiringi oleh kedua
pengawalnya, Right dan Left.



 



DAN
DAN



Siapa tuh ?



 



NU
NU



Iya, siapa ya ? Kok kayaknya pernah liat ?



 



QUEEN



Aku juga kayaknya pernah liat, tapi nggak
inget



di mana.



 



MIE
MIE



Dia Ten, yang ikut balapan malam itu.



 



Dan Dan, Queen dan Nu Nu segera menoleh ke
arah Mie Mie dengan tampang curiga.



 



DAN
DAN



Wah, Mie Mie kok inget ? Hebat !



 



Terlihat Ten, Right dan Left sudah ada di
hadapan empat sekawan.



 



TEN



( Kepada Queen )



Halo …



 



QUEEN



( Senyum )



Halo juga …



 



NU
NU



( Kepada Ten )



Heh, kamu ini pembalap liar kan ? Kok bisa



masuk kampus kita sih ?



 



Ten melipat tangan dan tersenyum sombong.
Kemudian mengisyaratkan kode-kode kepada Right dan Left dengan matanya.



 



RIGHT



Jangan kurang ajar sama TUAN MUDA TEN, ya.



 



DAN
DAN



Apa hebatnya jadi pembalap liar ? TUAN MUDA
?



 



LEFT



Perlu kalian ketahui, TUAN MUDA TEN bukanlah



pembalap liar. TUAN MUDA TEN adalah TUAN
MUDA



PALING KEREN dan BERSAHAJA



 



Nu Nu terlihat seperti sedang menghitung
sesuatu. Dan Dan, Queen, Mie Mie, Ten, Left dan Right memperhatikan dengan
bingung.



 



RIGHT



Heh, kamu lagi hitung apa ?



 



NU
NU



( Ketawa )



Aku lagi hitung udah berapa kali kata



TUAN MUDA diucapkan.



 



Dan Dan, Queen dan Mie Mie pun tertawa.



 



DAN
DAN



Dasar Nu Nu konyol !



 



NU
NU



( Menjulurkan lidah kepada Dan Dan )



Bodo ..



 



QUEEN



( Kepada Ten )



Trus, kamu ada perlu apa di sini ?



 



Lagi-lagi Ten tidak menjawab, hanya memberi
kode kepada kedua pengawalnya.



 



LEFT



TUAN MUDA TEN baru saja pindah ke kampus
ini.



Dan mulai hari ini beliau resmi menjadi
mahasiswa



universitas ini.



 



EMPAT
SEKAWAN



Ooo…



 



QUEEN



Trus, apa masalahnya ?



 



Ten kembali memberi kode kepada pengawalnya.



 



RIGHT



( Kepada Queen )



Karena malam di arena balapan itu, TUAN MUDA
TEN



memutuskan memberimu hak veto.



 



EMPAT
SEKAWAN



( Hampir berbarengan )



HAK VETO ???



 



LEFT



Hak veto adalah hak khusus yang diberikan
TUAN



MUDA TEN kepada seseorang. Dengan begitu,
orang



yang mendapatkan hak veto memiliki derajat
yang



lebih tinggi 1 tingkat dibandingkan yang
lain di hadapan



TUAN MUDA TEN.



 



NU
NU



Apa maksudnya ? Aku nggak ngerti.



 



RIGHT



Contohnya, orang yang tidak mendapat hak
veto tidak



boleh berjalan sejajar dengan TUAN MUDA TEN.
Sedangkan



orang yang memiliki hak veto boleh berjalan 3
langkah di



belakang TUAN MUDA TEN. Dengan kata lain
berjalan hampir



sejajar dengan TUAN MUDA TEN.



 



DAN
DAN



Oo … begitu, ya ? Queen dapat hak veto,
terus kita temennya



dapet apa ?



 



NU
NU



( Ketawa )



Dapet souvenir nggak ?



 



Ten dan kedua pengawalnya terlihat sedang
berdiskusi. Empat sekawan pun saling berbisik.



 



NU
NU



( Berbisik )



Orang ini gila, menganggap dirinya kaisar
apa ?



 



DAN
DAN



( Berbisik )



Dia pikir ini masih jaman purba kali.



 



QUEEN



( Berbisik )



Tapi lucu juga ada orang kayak gini, seumur
hidup



aku belum pernah ketemu orang kayak gini.



 



MIE
MIE



( Berbisik )



Kalau dia nggak sombong, dia lumayan cakep.



 



Dan Dan, Nu Nu dan Queen langsung berteriak
dengan wajah aneh.



 



RIGHT



Kenapa teriak-teriak ?



 



Empat sekawan terlihat salah tingkah.



 



DAN
DAN



Nggak pa pa. Gimana ? Temennya dapet apa ?



 



LEFT



Setelah melakukan meeting singkat, TUAN MUDA



TEN memutuskan memberikan 1/3 hak veto
kepada



teman si penerima hak veto.



 



NU
NU



Apa lagi tuh maksudnya ?



 



RIGHT



Maksudnya adalah penerima 1/3 hak veto boleh



berjalan 10 langkah di belakang TUAN MUDA
TEN.



 



Empat sekawan langsung tertawa ketika
mendengar penjelasan Right.



 



DAN
DAN



( Kepada Ten )



Heh, Tuan Muda Ten … kamu ini hidup di jaman
apa sih ?



 



NU
NU



( Ketawa )



Iya, apaan tuh jalan sejajar nggak sejajar ?



 



QUEEN



( Senyum )



Kamu anggota kerajaan, ya ? Kok namanya TUAN
MUDA



TEN ? Bukannya PANGERAN TEN aja sekalian.



 



Empat sekawan pun tertawa terbahak-bahak,
kecuali Mie Mie yang hanya tersipu-sipu.



 



DAN
DAN



Udah, yuk kita pergi aja ! Jangan pedulikan
orang



aneh ini !



 



Dan Dan pun menggiring ketiga temannya
pergi. Tapi sesaat kemudian langkah mereka dihalangi oleh seorang cewek imut
yang datang bersama pengawalnya.



 



RICE



( Sambil bertolak pinggang )



Mie Mie … kamu ke mana aja ? Daritadi aku
cari-cari …



 



Perhatian Ten, Right dan Left pun tertuju
kepada Rice, saudara kembar Mie Mie.



 



MIE
MIE



( Menundukkan kepala )



Aku …



 



QUEEN



Mie Mie lagi mendiskusikan tugas sama kita.



 



RICE



( Mendorong Queen )



Heh ! Jangan ikut campur, ya. Ini urusan
keluarga.



 



Ten segera memberi aba-aba kepada kedua
pengawalnya. Right dan Left segera melindungi Queen.



 



RIGHT



Tolong sopan sedikit, ya. Nona ini adalah
penerima



hak veto TUAN MUDA TEN.



 



RICE



Apaan tuh hak veto ? Dan … siapa juga TUAN



MUDA TEN ?



 



Ten pun mendekati Rice masih dengan gaya
TUAN MUDA-nya. Empat sekawan perlahan-lahan mundur dari medan peperangan.



 



LEFT



( Bagai SPB mempersembahkan barang



dagangannya )



Inilah TUAN MUDA TEN.



 



RICE



( Acuh tak acuh )



Aku kira siapa, ternyata cuma seorang anak



blasteran ? Apa hebatnya ?



 



Right dan Left segera memasang tampang
garang menakuti Rice. Ten tersenyum sombong. Rice memberi kode kepada Mouse
yang daritadi di belakangnya.



 



RICE



Memangnya cuma kamu yang punya pengawal ?



Aku juga punya.



 



RIGHT



( Tertawa )



Pengawalmu cuma satu, sedangkan kami berdua.



 



RICE



( Berteriak )



SHADOW !!!



 



Tiba-tiba dari balik pohon, muncul Shadow
yang daritadi sembunyi. Shadow menghampiri Rice dan memberi hormat.



 



SHADOW



( Membungkuk )



Shadow siap menerima perintah, nona Rice !



 



RICE



( Bertolak pinggang )



Sekarang pengawalku sudah dua.



 



Di saat peperangan akan dimulai, empat
sekawan segera melarikan diri dari tempat kejadian.



 



          CUT TO :


Shan2 · 103 views · 1 comment
Categories: Episode 4#, Part 1
Episode 4# " Rumah Seni " : Part 2
30 Oct 2007 


EXT.
TAMAN DEKAT KAMPUS, KURSI PANJANG – SORE



Terlihat empat sekawan datang dengan
terengah-engah. Setelah sampai, mereka pun segera duduk di bangku panjang.



 



DAN
DAN



( Ketawa )



Mie Mie, kayaknya saudara kembarmu sama si



orang aneh cocok, deh !



 



NU
NU



Iya, sama-sama sombong dan galak !



 



MIE
MIE



( Terlihat gelisah )



Bagaimana ini ? Aku harus segera pulang.



 



QUEEN



Jangan ! Mumpung saudara kembarmu sedang



ribut sama si pengeran itu, kita diskusiin
tugas kita aja.



 



NU
NU



Oh, iya. Gimana nih tugasnya ? 7 hari kan
udah harus



kumpul, kalo enggak nilai ujian kita akan
dapat



D dan kita dinyatakan nggak lulus. Masa aku
harus



ulang ? Nggak mau !



 



DAN
DAN



Aku juga nggak mau.



 



MIE
MIE



( Membenarkan kacamatanya, seperti



sedang berpikir )



Kemarin waktu pulang kuliah, aku lewat di
suatu



tempat. Di sana dipajang banyak sekali
lukisan. Dan



meskipun aku nggak ngerti lukisan, aku
merasa



lukisan-lukisan itu bagus banget. Kalo nggak
salah



namanya Rumah Seni, deh !



 



QUEEN



Oh, itu ya ? Aku juga pernah liat.



 



NU
NU



Terus ?



 



MIE
MIE



Aku lagi pikir, gimana kalo kita belajar
sama orang



yang buat lukisan itu ?



 



DAN
DAN



Eh, itu ide bagus  ! Tempat itu nggak jauh dari



sini khan ? Ayo, sekarang juga kita ke sana
!



 



CUT
TO :



 



EXT.
RUMAH SENI, DEPAN PINTU RUMAH SENI – SORE



Terlihat Empat sekawan sedang berdiri di
depan sebuah bangunan dengan design kuno. Mirip bangunan-bangunan di Eropa.
Pintunya terbuat dari kaca tebal dan di sebelah-sebelah pintu terdapat
jendela-jendela kaca yang besar-besar.



 



Dari luar jendela terlihat di dalam banyak
sekali lukisan. Di atas pintu kaca tersebut terdapat papan nama besar
bertulisan “ RUMAH SENI “. Empat sekawan pun masuk ke dalam rumah.



 



INT.
RUMAH SENI, LOBBY – SORE



Terlihat empat sekawan melihat-lihat ke
sekeliling. Di sana terdapat banyak sekali lukisan-lukisan.



 



CONDOR
(O.S. )



Siapa kalian ? Mau apa ke sini ?



 



Empat sekawan menoleh ke asal suara.



 



DAN
DAN



( Berbisik kepada ketiga temannya )



Bukannya itu Condor ? Kok dia ada di sini ?



 



Close
up
wajah Queen, Nu Nu dan
Mie Mie secara bergantian. Queen memasang tampang bingung, Nu Nu geleng-geleng,
Mie Mie mengangkat bahu tanda tak tahu.



 



Condor berjalan mendekati empat sekawan,
kemudian memperhatikan Queen dengan seksama.



 



CONDOR



( Kepada Queen )



Ooo… kamu mau menjahati adikku, ya ?



 



QUEEN



( Antara heran dan terkejut )



Aku ? Kenapa aku mau menjahati adikmu ?
Memang



kita kenal ?



 



DAN
DAN



Iya, jangan bicara sembarangan. Kita kan
nggak kenal



Kenapa kamu menuduh orang seperti itu ?



 



NU
NU



Nggak sopan !



 



Condor
malah mendekati Queen dan memicingkan matanya.



 



CONDOR



Masih nggak mau ngaku. Kamu Queen kan ?



 



QUEEN



( Bingung )



Kok kamu tahu namaku ?



 



CONDOR



Jelas aku tahu. Kamu kan yang mau menjahati
adikku.



 



Di tengah-tengah kebingungan empat sekawan,
sebuah suara tak dikenal memecahkan keheningan.



 



PAPI
( O.S. )



Condor, ada siapa di luar ?



 



Hanya suaranya yang terdengar, namun
sosoknya tidak kelihatan. Empat sekawan mencari ke sekeliling asal suara dan
menghentikan kegiatan mereka ketiga Condor mulai bicara.



 



CONDOR



( Berteriak ke arah ruang dalam )



Bukan apa-apa guru ! Cuma orang iseng !



 



DAN
DAN



( Ikut berteriak ke arah yang dituju Condor
)



Bohong guru ! Kami ke sini mau belajar
melukis. Tapi



orang ini malah bersikap tidak sopan !



 



NU
NU



( Ikut-ikutan berteriak )



Iya, kami kan tamu, harusnya dijamu dengan
baik !



 



Namun, tak ada jawaban dari sang Guru. Empat
sekawan masih menatap ke ruang dalam, hendak melihat siapakah guru yang
dimaksud. Condor masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya menjulurkan lidah
kepada empat sekawan.



 



Terdengar desas desis suara yang tidak
jelas. Empat sekawan mencoba mendengarkan, tapi tetap tak bisa menerka apa yang
baru saja mereka dengar, karena suaranya terlalu kecil.



 



Tak lama kemudian, keluar seorang lelaki
setengah baya. Tubuhnya masih gagah, dengan jenggot dan kumis tipisnya, lelaki
itu masih kelihatan muda dan bersemangat. Di samping laki-laki itu, Condor
berdiri tegap sambil bertolak pinggang.



 



PAPI



( Tersenyum )



Rupanya Rumah Seni kami kedatangan tamu.
Maafkan



murid saya bila bersikap tidak sopan.



 



NU
NU



( Acuh tak acuh )



Untung gurunya nggak kayak muridnya …



 



DAN
DAN



( Menjitak kepala Nu Nu )



Sopan dikit sama orang yang lebih tua.



 



MIE
MIE



( Meletakkan jari telunjuknya di depan
bibirnya )



Ssstttss …



 



QUEEN



( Tersenyum )



Guru, maaf kalau kami mengganggu. Kami
mahasiswa



jurusan seni lukis. Kami dapat tugas dari
dosen kami



untuk menyelesaikan lukisan karya kami dalam
waktu 7



hari. Kami lihat hasil karya guru sangat
bagus, jadi kami



ingin belajar melukis dari guru.



 



PAPI



( Tersenyum )



Boleh … besok datang saja dengan membawa



perlengkapan melukis.



 



CONDOR



Tapi … guru …



 



PAPI



( Memotong kata-kata Condor )



Condor, tolong antarkan tamu keluar.



 



EMPAT
SEKAWAN



( Tersenyum sambil memberi hormat )



Terima kasih guru.



 



Dengan wajah kecewa bercampur kesal, Condor
menggiring empat sekawan keluar. Queen memperhatikan wajah Condor yang kesal.



 



QUEEN



Kamu benci padaku, ya ?



 



CONDOR



( Judes )



Aku benci semua orang yang berniat menjahati
adikku.



 



QUEEN



( Bingung )



Tapi aku kan nggak kenal kamu maupun adikmu,
bagaimana



mungkin aku menjahatinya ? Dan juga … untuk
apa ?



 



CONDOR



( Cuek )



Kalau maling mau ngaku, penjara udah penuh !



 



QUEEN



( Mulai kesal )



Terserah, deh !



 



Sesampainya di depan pintu, tanpa
mengucapkan kata-kata perpisahan, Condor langsung masuk ke dalam dan
meninggalkan empat sekawan di luar.



 



DAN
DAN



Sombong sekali.



 



NU
NU



Iya, belagu.



 



Di saat empat sekawan masih memaki-maki
Condor, sebuah suara menggelegar menghentikan makian mereka.



 



RICE
( O.S. )



Mie Mie, akhirnya ketemu juga ! Ngapain aja
kamu ?



Ayo cepat pulang !



 



Empat sekawan segera menoleh. Rice sudah
berada beberapa meter di depan mereka dengan mobil jemputan keluarganya dan
Mouse serta Shadow di belakangnya.



 



DAN
DAN



( Berbisik kepada Mie Mie )



Wah, saudara kembarmu kok kayak mamamu saja
?



 



NU
NU



( Ikut-ikutan berbisik )



Iya, sok ngatur.



 



MIE
MIE



( Kepada teman-temannya )



Aku pulang dulu, ya.



 



DAN
DAN, QUEEN dan NUNU



( Senyum )



Iya, hati-hati, ya.



 



Mie Mie pun berjalan menuju mobilnya. Di
dalam mobil, Rice sudah duduk dengan wajah kesal. Sedangkan Mouse dan Shadow
masih mengiringi Mie Mie di sampingnya.



 



Setelah Mie Mie masuk ke dalam mobil, ia
sempat melambaikan tangan kepada ketiga temannya dan mereka pun membalasnya.



 



Kemudian, tepat pada saat mobil Mie Mie
melaju pergi, ponsel Queen berdering kencang. Queen buru-buru merogoh tasnya
dan mengeluarkan ponselnya, kemudian memperhatikan layar ponsel.



 



QUEEN



( Antara takut dan terkejut )



JACK !



 



Kedua temannya yang menyadari itu telepon
dari Jack segera menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua terlunjuk
mereka. Sesaat kemudian, barulah Queen menekan tombol call dengan wajah pasrah.



 


CUT TO :
Shan2 · 103 views · 1 comment
Categories: Episode 4#, Part 2
Episode 4# " Rumah Seni " : Part 3
30 Oct 2007 


EXT.
BENGKEL KING, SEKITAR BENGKEL KING – SORE



Terlihat seorang cewek berambut panjang
sedang berjalan sambil melipat kedua tangannya ke sana kemari, di belakangnya
ada seorang cowok cute berlesung pipi yang terus mengikutinya.



 



NUT



Cici, kamu mau ke mana ? Lebih baik kamu
ikut aku



pulang.



 



CICI



Aku nggak mau !



 



NUT



Terus kamu mau ke mana ?



 



CICI



Bukan urusanmu ! Jangan ikuti aku terus !



 



INT.
BENGKEL KING – SORE



Terlihat King sedang berjalan keluar dengan
tongkat bantunya. Di sampingnya ada Machine yang menolongnya.



 



MACHINE



King, kamu yakin bisa pulang sendiri ?



 



KING



( Tersenyum )



Tadi kan aku juga datang sendiri. Tenang
saja,



aku tidak selemah itu.



 



EXT.
BENGKEL KING – SEKITAR BENGKEL KING – SORE



Terlihat Cici yang pusing karena terus
diikuti Nut, ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya sampai ia melihat KING !
Cici segera menghampiri KING dan Nut mengikutinya dari belakang.



 



EXT.
BENGKEL KING, DEPAN BENGKEL KING – SORE



Terlihat King sedang berjalan
perlahan-lahan. Di belakangnya Machine sedang berjalan menuju bengkel tanpa
menoleh ke belakang.



 



CICI
( O.S. )



KING !!!



 



King yang tadinya menatap ke tanah,
memperhatikan langkahnya, kini mengalihkan perhatiannya kepada Cici yang
berdiri beberapa meter di depannya.



 



Cici berlari mendekati King dan Nut masih
mengikuti dari belakang.



 



CICI



King, kok kamu masih pakai tongkat ?
Bukankah



waktu itu lukanya sudah mau sembuh ?



 



KING



( Bingung )



Anda …



 



CICI



Aku Cici… waktu kamu terluka dulu, aku yang



merawatmu. Masih ingat ?



 



NUT



( Dengan sinis menatap King )



Dasar tidak tahu balas budi, melihat
penolongmu



malah pura-pura tidak kenal.



 



Cici berbalik dan mengisyaratkan kode agar
Nut menutup mulutnya.



 



KING



Oh, rupanya anda ini nona yang waktu itu ?
Maaf …



 



CICI



( Senyum )



Nggak pa pa. Oya, kamu mau ke mana ? Biar
aku antar.



 



KING



Terima kasih. Saya bisa pulang sendiri.



 



CICI



( Memegangi tongkat King )



Nggak pa pa, kok ! Aku nggak keberatan.



 



NUT



Cici …



 



CICI



( Kepada Nut )



Ssttt !



 



KING



Rumah saya dekat, kok ! Cuma beberapa blok
dari sini.



 



CICI



( Ketawa )



Nah, karena dekat, kamu harus biarkan aku
menolongmu.



 



NUT



Sudahlah Cici, kelihatan sekali orang ini
tidak tahu



balas budi. Mana mungkin dia mau kamu ikuti
?



Dia pasti takut kamu minta imbalan kalau
sudah



sampai rumahnya nanti.



 



CICI



( Menoleh kepada Nut )



Ssttt …



 



KING



Ah, baiklah ! Waktu itu nona menolong saya,



saya belum sempat membalas. Sekarang biar
saya



jamu nona makan di rumah saya, bagaimana ?



 



CICI



( Ketawa )



Dengan senang hati.



 



EXT.
RUMAH QUEEN, SEKITAR RUMAH QUEEN - SORE



Terlihat King, Cici dan Nut sedang berjalan
di pinggir jalan. Cici membantu King dari samping, sedangkan Nut mengikuti
mereka dari belakang dengan tampang kesal.



 



CICI



Rupanya rumahmu di daerah sini, ya ? Kok aku
nggak



pernah liat kamu di sekitar perumahan ini ?



 



KING



Aku baru pindah ke sini. Dulu … aku tidak
tinggal di sini.



Tapi, tidak disangka, ternyata bengkelku
dekat dengan



rumah ini.



 



CICI



Lho, jadi kamu pindah ke sini bukan supaya
lebih



dekat dengan bengkel ?



 



KING



( Menggeleng )



Masalah keluarga.



 



CICI



( Manggut-manggut )



Ooo…



 



Beberapa meter sebelum rumah Queen, Cici
terlihat gelisah, khawatir akan ada seseorang keluar dari rumah itu dan
mengenalinya. Kemudian mereka pun sampai di depan rumah Queen.



 



CICI



Rumahmu yang mana ?



 



KING



( Menunjuk rumah Queen )



Ini dia. Sudah sampai. Ayo, silahkan masuk !



 



Cici melepaskan tangannya yang sedaritadi
memegangi tangan King. King berjalan masuk, namun Cici hanya berdiri di depan
rumah dan terpaku. Nut berdiri di samping Cici dam memperhatikan rumah di
depannya dari atas ke bawah.



 



NUT



Wah, rupanya dia orang kaya, ya ! Rumahnya



besar sekali !



 



KING



( Menoleh )



Ayo, silahkan masuk !



 



Cici tetap terpaku dan menggelengkan kepalanya.
Nut masih sibuk dengan sikap noraknya.



 



KING



( Bingung )



Kenapa ?



 



Tiba-tiba terdengar suara motor yang tak
asing lagi. Yaitu suara motor Jack.



 



JACK
( O.S. )



CICI !



 



QUEEN
( O.S. )



KAK CICI !!



 



Terlihat Jack memarkirkan motornya di depan
pagar. Queen segera turun dari motor dan menghampiri Cici, begitu juga Jack.



 



King melirik ke depan pagar dan mendapati
Jack dan Queen sudah ada di sana.



 



KING



Rupanya … kalian kenal, ya ?



 



JACK



Jangan bercanda, tentu saja kami kenal. Dia
ini



kan kakak besar kami, CICI.



 



KING



( Bingung )



Kakak besar ?



 



CUT
TO :



 



INT.
RUMAH QUEEN, RUANG TAMU - MALAM



Terlihat Jack, Queen, King, Ace, Mama, Cici
dan Nut sedang duduk di sofa.



 



MAMA



Cici, kamu kan sudah besar. Jangan main
lagi,



pulang saja ke rumah.



 



QUEEN



Iya, kak. Kakak pulang saja.



 



JACK



Jangan banyak tingkah lagi.



 



Cici hanya diam sambil memperhatikan King.



 



CICI



Jadi, King tinggal di sini ?



 



MAMA



( Melirik King, kemudian Cici )



Ya. King tinggal di sini. Ace juga.



 



CICI



Baiklah, kalau begitu aku akan tinggal.



 



NUT



( Berdiri )



Aku juga mau tinggal di sini. Di mana ada
Cici,



di sana ada Nut !



 



CICI



Jangan, kamu pulang saja sana !



 



MAMA



( Kepada Cici )



Selama ini kamu tinggal di rumahnya ?



 



CICI



( Mengangguk )



Iya.



 



MAMA



Baiklah, dia boleh tinggal, asal kamu
melanjutkan



kuliah kedokteranmu.



 



CICI



Tapi …



 



NUT



( Meloncat girang )



HORE !! Aku akan tinggal di istana !!



 



CICI
( V.O. )



( Memperhatikan Nut dengan wajah kesal )



Tapi aku tidak mengharapkan orang ini
tinggal.



 



Queen tersenyum melihat tingkah Nut,
sedangkan Jack acuh tak acuh. King tertawa dan Ace menatap sinis.



 



CUT
TO :


Shan2 · 193 views · 4 comments
Categories: Episode 4#, Part 3

1, 2  Next page

Last Comment

Calendar

September 2010
SunMonTueWedThuFriSat
 << < > >>
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Google Adsense

Announce

Who's Online?

Member: 0
Visitor: 1

rss Syndication

Archives